Selama masa hidupnya, Sartre dikenal sebagai seorang kritikus dasyat dan hebat. Ia tidak segan-segan mengkritik pemerintahan dan kekuasaan yang ada. Pada tahun 1966, Sartre bergabung dengan international Tribunal Against War Chrimes in Vietnam, yang didirikan oleh Lord Bertrand Russel. Di lembaga ini, mereka menyelidiki kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara-tentara AS dengan norma dan nilai yang pernah digunakan oleh AS untuk menyelidiki kejahatan perang yang dilakukan oleh NAZI Jerman dalam pengadilan Nuremberg 1946. Lebih jauh lagi, ketika revolusi mahasiswa meledak, Sartre mengikutinya dengan perhatian besar. ia mengecam tindakan-tindakan polisi Perancis yang dinilai terlalu kejam.
Hal-hal berkaitan dengan Sartre yang tidak dapat dilupakan adalah ia pernah mendirikan surat kabar bernama Liberation (pembebasan). Majalah ini berisi idealisme, kritik dan gagasan Sartre. Karyawannya dibayar dengan gaji yang sama rata, tidak ada iklah dan non kapitalis. Dari usaha ini, Sartre ingin berjuang membela kaum buruh.
Pada tahun 1964 ia diproklamirkan sebagai poeraih nobel pada bidang sastra dan kepenulisan. Namun demikian, Jean-Paul Sartre menolak penghargaan Nobel bidang kesusastraan yang sedianya dianugerahkan kepadanya itu. Ia berargumen bahwa seorang penulis tidak boleh mengizinkan dirinya bertransformasi ke dalam sebuah lembaga. Ketertarikan Sartre pada filsafat dimulai ketika membaca Essay on The Immediate Data of Consciousness karya Henri Bergson. Sartre menempuh pendidikan di Ecole Normale Superieure yang merupakan almamater sejumlah pemikir dan intelektual Prancis. Dalam karyanya, Sartre mengedepankan filsafat eksistensialisme, yakni setiap individu harus menciptakan makna bagi hidupnya karena kehidupan dirinya tidak memiliki makna secara lahiriah. Ia kemudian bertemu dengan Simone de Beauvoir yang menjadi kawan baiknya. Sartre menjadi seorang profesor filsafat dan mengajar di Le Havre, Laon, dan Paris. Pada 1938, novel pertamanya yang berjudul Nausea dipublikasikan. Setahun kemudian, ia memublikasikan salah satu karya terbaiknya, Being and Nothingness. Sartre dan Beauvoir bahu-membahu dalam mendukung komunisme, pergerakan sosial, dan kemunculan kelompok mahasiswa radikal di Paris pada 1968. The Family Idiot, karya bersama Flaubert, meledak di pasaran, tetapi hanya tiga yang diterbitkan dari empat jilid yang direncanakan. Kesehatan Sartre mulai menurun pada tahun-tahun berikutnya. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang.[1]
Bibliografi
Beberapa karya yang pernah dihasilkan oleh Sartre, antara lain[2]:
- 1936 – L’Imagination
- 1937 – La Transcendance de l’Ego
- 1938 – La Nausée
- 1939 – Le Mur
- 1940 – L’Imaginaire
- 1943 – Les Mouches
- 1943 – L’être et le néant: Essai d’ontologie phenomenologique
- 1945 – Huis-clos
- 1946 – Morts sans sépulture
- 1946 – La Putain respectueuse
- 1947 – Baudelaire
- 1947 – Les Jeux sont faits
- 1948 – Les Mains sales
- 1960 – Critique de la raison dialectique
- 1964 – Les Mots
- 1947-1976 – Situations (I – X)
- 1971-1973 – L’Idiot de la famille
- 1983 – Cahiers pour une morale (anumerta)
Poin Penting Pemikiran Sartre
Sartre adalah tokoh filsafat mengembangkan aliran eksistensialisme.. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L’existence précède l’essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L’homme est condamné à être libre).
”Manusia adalah kebebasan”, demikian kata Sartre, ”tidak cukup dengan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang menginginkan kebebasan, manusia adalah kebebasan itu sendiri”. Inilah corak humanis pemikiran sartre. Kebebasan berarti memilih, menentukan sikap dari sekian alternatif yang dimungkinkan. Manusia bebas memilih jalan hidupnya sendiri tanpa harus ditentukan oleh orang lain atau faktor objektif lainnya.
Namum, kebebasan bukan berarti ”lepas sama sekali” dari kewajiban dan beban. Menurut Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan tanggung jawab, dan tidak bisa dipisahkan.
Dengan kebebasan inilah manusia bereksistensi. Manusia dikatakan makhuk bebas karena ia sanggup untuk mengatakan ”tidak”, menidak (nientir). Dalam hal ini, ada dua modes of being (cara berada) manusia yang kita kenal dari Sartre, being-in-itself (ada-pada-dirinya) dan being-for-itself (ada-bagi-dirinya). Pertama, being-in-itself menunjukkan cara bereksistensi secara tertutup. Apa yang ada sepenuhnya dengan dirinya sendiri, ia tertutup rapat tanpa lobang, tanpa celah, dan tanpa ruang gerak sedikitpun untuk keluar darinya. In the in-self there is not particle of being is which not wholly within it-self without distance. Bagi Sartre, ”ada” yang demikian ini disebut dengan ada yang ”tak berkesadaran”. Ia ada begitu saja (it is what it is) tanpa mempunyai masa silam, masa depan, dan tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan.
Berbeda dengan being-in-itself, being-for-itself menunjukkan cara beradanya manusia di muka bumi; ada yang berkesadaran yang hanya ada pada manusia. Cogito atau kesadaran sebagai titik tolak filsafat, di sini mendapat tekanan khusus dari Sartre, yaitu kesadaran tentang dirinya sendiri (conciusness of self) yang berarti ”membuka diri”.
Being-for-itself ini merupakan inti pandangan Sartre tentang eksistensi manusia. Kata kuncinya adalah kebebasan. Kebebasan akan menetukan keberadaan manusia dalam sejarah. Seorang yang berusaha lari dari kebebasan sebenarnya juga sedang berusaha merealisasikan kebebasan itu sendiri. Jadi tidak ada kata tidak untuk kebebasan manusia. Manusia adalah kebebasan, titik. Justru itu, manusia bebas maka Tuhan tidak ada, karena jika Tuhan ada, lanjut Sartre, berarti ”aku” tidak bebas alias diam karena semuanya sudah dirancang sedemikian rupa oleh Tuhan.
Dengan demikian, Sartre sangat menentang segala bentuk determinisme dan sikap malafide, sikap pasrah yang menerima segala sesuatu secara taken for granted. Misalnya dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar apa boleh buat, memang sudah begitu adanya. Demikianlah Sartre, sepanjang sejarah eksistensialisme, kebebasan ala Sartre ini boleh dibilang paling ekstrim dan radikal. Dalam sejarah perkembangan filsafat, agaknya tidak ada pendirian tentang kebebasan yang ekstrim dan radikal seperti Sartre.
Tidak dapat disangkal ada cukup banyak orang yang sangat revolusioner, progresif, dan berhaluan kiri dalam masa mudanya, sedangkan di masa tua ternyata mereka sudah merasa lesu untuk berjuang terus dan menjadi reaksioner, konservatif, dan berhaluan kanan. Tetapi pada Sartre tidak demikian halnya, ia selalu cenderung berpendapat yang ekstrim dan radikal dan tidak pernah menyembunyikan kecenderungan itu.
Seorang Sartre tidak hanya bermukim di menara gading pemikiran teoretis, kebebasaan yang digembar-gemborkannya mengejawantah pada praksis hidup kesehariannya. Sekadar contoh, misalnya, ia bersama kekasihnya, Simone de Beauvoir, memilih untuk tidak menikah. Menurut mereka, perkawinan hanyalah suatu lembaga kaum borjuis saja.
Sartre juga menolak hadiah nobel kesusastraan yang dianugerahkan kepadanya pada tahun 1964. Katanya, dengan menerima hadiah tersebut, kebebasannya akan berkurang, karena otomatis ia masuk golongan tertentu, yaitu golongan borjuis atau kapitalis.
Bagaimanakah pandangan Sartre terhadap relasi antarmanusia dalam lingkup sosial? Menurut Sartre, inti setiap relasi antarmanusia adalah konflik, saling menegasikan terus-menerus, karena seorang manusia menjadi subjek sekaligus juga objek bagi yang lain. Oleh karena itu, satu dengan yang lainnya berusaha untuk memasukkan orang lain (yang ada di luar dirinya) dalam pusat ”dunia”-nya. Adapun menurut Sartre, sarana terjadinya konflik tersebut adalah sorot mata (le regard). Setiap perjumpaan dan komunikasi dengan orang lain merupakan ancaman bagi eksistensinya. Ucapan Sartre yang cukup populer dan banyak dikutip tentang hal ini adalah neraka adalah orang lain dan dosa asal saya adalah adanya orang lain”.
Sejalan dengan itu, standar objektif moralitas manusia tidak ada sama sekali. Mengikuti Nietzche, Sartre mengutuk setiap bentuk objektivikasi dan impersonalisasi.
Tak ada standar baik dan buruk kecuali kebebasan itu sendiri.
Meskipun pemikirannya cukup ekstrim pada waktu itu, namun kecerdasan dan pemikirannya memberikan pengaruh yang mendalam pada beberapa tokoh seperti De Beauvoir, Merleau-Ponty, Frantz Fanon, R.D. Laing, Iris Murdoch, Gilles Deleuze, Felix Guattari, Alain Badiou, Frederic Jameson, Michael Jackson, Albert Camus, Kenzaburo Oe, Doris Lessing, William Burroughs
Pemikiran dan Konteks Sekarang
Sartre merumuskan eksistensialisme sebagai keeeasan radikal manusia, dan posisinya sebagai ketiadaan yang meniadakan; kematian Allah; pencarian nilai; adanya angst (kecemasan yang mendalam); dan ketiadaan sebagai kategori pokok (Bagus, 2002:188). Bagus (2002:295) lebih lanjut mengatakan baha humanisme individualisme rasional dianggap paling tinggi , individu dianggap nilai paling akhir , serta pemupukan perkemangan kreatif dan perkemangan moral individu secara rasional dan berarti tanpa acuan pada konsep-konsep tantang adikodrati.
Ajaran humanisme eksistensialis Sartre Bertolak dan realitas yang bersifat dualis, membedakan realitas menjadi dua yaitu being–in –it-self dan being-for-it-self. Being-in-itself menunjuk cara bereksistensi secara tertutup, merupakan cara mengada pada benda-benda. Sedangkan, being-for-it-self adalah cara mengada manusia, ada yang terbuka, pengada yang sadar, yang hanya berlaku pada manusia. Pembahasan Sartre secara sentral lebih memfokuskan mengenai pengada yang sadar, yang identik dengan manusia. Sartre mengungkapkan bahwa manusia mengada dengan kesadaran bagi dirinya sendiri. Cara mengada manusia berbeda dengan cara mengada pada benda-benda, manusia memiliki kesadaran mengenai dirinya sendiri sedangkan benda-benda tidak. Manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (Hasan dalam Siswanto, 2001:3). Kemudian cara mengadan yang ketiga, cara mengada yang sering dilupakan banyak orang adalah being-for-other, yang terdapat dalam bagian ketiga Being And Nothingness, memahas mengenai cara mengada manusia apabila dihubungkan dengan obyek di luar dirinya, dalam hal ini orang lain. (Muzairi, 1982:90).
“Humanisme eksistensial memandang manusia tidak terbungkam, membisu dalam dirinya sendiri, melainkan selamanya hadir dalam suatu semesta manusia, mengingatkan pada manusia bahwa tidak ada legislator, selain dirinya sendiri, dengan harus memutuskan untuk dirinya sendiri, melainkan selalu mengatasi diri, suatu tujuan yaitu tujuan pembebasan atau suatu realisasi bahwa manusia dapat merealisasikan dirinya menjadi manusia sejati” (Sartre, 1960:105).
Kutipan di atas memperjelas konsekuensi yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Bahwa manusia dalam menjalani hidupnya selalu dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan, dan manusia memiliki kebebasan untuk memilih setiap kemungkinan yang ada, kemungkinan yang akan dipilihnya dari sekian banyak kemungkinan yang ditawarkan dalam hidupnya. Kebeasan manusia mengatasi segalanya, bahkan mengatasi segalanya ahkan alam semesta sekalipun, dipertegas bahwa tidak ada legislator bagi manusia kecuali manusia itu sendiri. Secara singkat bahwa manusia adalah pembentuk nilai untuk dirinya sendiri.
Sartre memberikan pilihan kepada kita. Karena manusia adalah yang bebas menentukan nilai yang cocok bagi dirinya maka ia bebas menentukan apa saja yang hendak ia lakukan dan tidak. Manusia adalah tuan atas nilai-nilai. Selain itu, Sartre melihat bahwa kekerasan adalah bentuk atau cara untuk menunjukkan kebebasan. Kekerasan adalah jalan untuk menegaskan bahwa saat ini seseorang keluar dari keterkekangan.
Kesimpulan saya, mungkin akan lebih baik jika sekolah mengajarkan siswa-siswanya untuk lebih terbuka. Mengajarkan siswanya menjadi diri sendiri bukan meniru si A atau si B karena mematronkan seorang bias membuat seorang anak stress dan merasa dirinya tidak bebas. Ia harus menjadi seperti ini dan itu.
Bagi saya kekerasan kadang datang sebagai pelampiasan rasa ketidakpuasan akan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan seseorang. Anak-anak di sekolah mungkin akan stress dan melukai rekan-rekannya karena stress menghadapi tuntutan ujian dan tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya sekolah dan mendapatkan nilai terbaik.
Sekarang, cobalah melihat ke kiri dan ke kanan Anda. Saya yakin hal seperti ini akrab dengan situasi pendidikan kita saat ini. Mari bersama-sama mengubah kesalahan kita bersama daripada hanya terpekur dan meratapinya. (Yosef-Yogyakarta)
[1]http://www.mediaindonesia.com/read/2008/10/10/38200/77/21/Jean-Paul_Sartre_Menolak_Penghargaan _Nobel



