Dari Seribu Jendela Menuju Satu Fokus
Dewasa ini, tragedi kemanusiaan yang merendahkan martabat manusia selalu menjadi sorotan berbagai pihak. Kekerasan itu begitu sering terjadi dan membentuk suatu proses yang kental dehumanisasi. Tidak mengherankan bila kita tidak menemui kesulitan untuk memperoleh informasi seputar dehumanisasi. Dari media cetak lokal maupun nasional, kekerasan tidak pernah alpa untuk mengisi halaman berita. Di Yogyakarta Koran Merapi dan Minggu Pagi adalah contoh Koran yang menjadikan kekerasan sebagai salah satu sajian utamanya. Dari berita di media elektronik kekerasan menempati porsi yang cukup besar, dari pagi sampai pagi. Saking seringnya menyantap dan menjumpai tindakan kekerasan, lama-kelamaan masyarakat seolah sudah terbiasa bahkan bisa mereproduksi kekerasan tersebut.
Kasus kekerasan sebenarnya buklanlah kasus baru. Kekerasan seolah sudah menjadi momok dan membentuk lingkaran setan yang tidak pernah selesai. Berbicara tentang kekerasan, penulis menyajikan pendapat Siswadi (2006) dalam harian Waspada online, berikut ini:
“Kultur kekerasan dan brutalisme tampaknya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Belakangan ini, frekuensinya bahkan cenderung menuingkat tajam. Penghilangan nyawa manusia dengan bermacam dalih, misalnya, kini sering kita saksikan melalui berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Keberanian melakukan berbagai tindak kekerasan itu merupakan pertanda masih rendahnya kesadaran hokum, tipisnya moralitas, dan tidak adanya tanggung jawab memelihara kedamaian dan toleransi antar sesama. Hal itu membuktikan bahwa sifat-sifat jahiliya sudah mulai membudaya dan nilai-nilai keimanan telah kian kabur dari kehidupan masyarakat kita. Celakanya lagi, meskipun kita berpredikat sebagai negara hokum, namun system hokum dan aparatnya sendiri tidak mampu menjangkau dan menyelesaikan setiap bentuk kekerasan yang lahir di masyarakat. Berbagai upaya pencegahan semua bentuk kekerasan sudah dilakukan banyak kalangan, baik lewat forum diskusi, seminar maupun penyuluhan. Tetapi, hingga kini, semua itu belum terasa hasilnya secara maksimal.”
Deskripsi di atas juga menjadi perhatian sosiolog Anthony Giddens. Situasi dunia saat ini distilahkannya sebagai Runaway World,[1] yang diterjemahkan sebagai dunia yang berlari tunggang langgang. Satu hal yang menjadi keprihatinannya adalah di tengah dunia yang hiruk pikik, problem dehumanisasi semakin meluas. Hiruk pikuk manusia dengan sejumlah persoalan hidup pada akhirnya mengesampingkan penghargaan aras martabat manusia. Tragedy kemanusiaan 11 September 2001 menjadi satu catatan tersendiri mengenai fenomena kekerasan manusia. Terorisme di sini menjadi suatu konstruksi yang merusak peradaban manusia.
Florens Maxi yang mengutip pendapat Dom C. Helder dalam bukunya The Spiral of Violence mengungkapkan bahwa kekerasan tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan bahkan membuatnya menjadi spiral lingkungan balas dendam.[2] Konsekuansi kekerasan itu juga tidak dapat dibantah oleh siapa pun juga, karena kekerasan memiliki kelemahan praksis yakni memperbanyajk tindakan kejahatan dan membuat situasi hidup manusia menjadi serba chaos.
Warna kekerasan yang sering terjadi dalam sejarah peradaban manusia tidak terlepas dari pergolakan ekonomi dan pilitk pada suatu bangsa. Negara Urganda, misalnya. Perrgolakan yang terjadi antar etnis muncul karena keadaan ekonomi dan pilitik yang tidak seimbang.[3] Di Indonesia, kekerasan yang menyebabkan terjasinya dehumanisasi bukan lagi merupakan hal yang asing. Kasus-kasus berlabelkan perendahan martabat manusia seperti penindasan, kekerasan fisik dan psikis serta ketidakadilan dapat dengan mudah ditemukan dalam keseharian hidup warganya. Di Maluku dan Ambon, misalnya, konflik berkepanjangan mengakibatkan 1.655 orang Muslim dan Kristen meninggal dunia, 1.219 luka berat, 2.315 lari ke hutan Halmahera, 6.497 rumah ibadat dibakar/ rusak dan 86 toko rusak/dibakar, belum termasuk benda-benda lain.[4].
Sejumlah fenomena ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya apa yang dialami manusia telah merongrong kemerdekaan hidupnya sendiri. kehidupan manusia dan keberadaannya yang seharusnya dihargai pada kenyataannya direndahkan demi kepentingan tertentu. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan tidak dihargai.
Begitu banyaknya kasus kekerasan terjadi sehingga kajian tentangnya banyuak dilakukan. Begitu banyak buku yang mengulas tentang kekerasan terhadap perempuan, kekerasan pada lingkungan kerja, kekerasan pada anak-anak, kekerasan seksual, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan kelihatan sekali dapat masuk sampai ke ranah yang paling humanis sekalipun. Ranah yang di sebut pendidikan.
Kajian mengenai kekerasan dalam ranah ini sangat minim. Pendidikan yang dianggap sebagai media transfer nilai dan budi pekerti ternyata tidak luput dari cengkeraman kekerasan. Memang tidak banyak kasus yang terungkap karena korban pada umumnya merupakan pihak yang sangat lemah dan tak berdaya. Selain itu lingkungan lembaga yang tertutup seringkali dengan mudahnya menyamarkan kasus kekerasan.
Terungkapnya kasus perilaku kekerasan terhadap para calon pamong praja dalam Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) merupakan gunung es kekerasan yang menggerogoti dunia pendidikan kita. Kematian Cliff Muntu bukan yang pertama, pun bukan satu-satunya korban kekerasan dalam pendidikan. Sejak lama lembaga pendidikan kita telah melahirkan dan mereproduksi kekerasan dalam masyarakat.[5] Perilaku kekerasan dalam pendidikan pamong praja merupakan tindakan melecehkan martabat manusia dan bangsa Indonesia. Itu adalah tindak kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilegalisasi melalui sistem pendidikan.
Komaruddin (2006) menjelaskan kasus tersebut sebagai berikut:
“Salah satu masalah pendidikan kita adalah adanya tindak kekerasan, baik yang dilakukan lembaga maupun individu yang terkait dengan dunia pendidikan. Kekerasan bisa terjadi dalam semua level tingkatan pendidikan. Mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Namun banyak yang mencuat ke permukaan justru tindak kekerasan pada lembaga pendidikan tinggi. Belum hilang dalam ingatan kita kasus kematian mahasiswa IPDN, yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pemerintahyan Dalam Negeri (STPDN) akibat ulah para seniornya. Juga baru-baru ini terjadi kekerasan yang dilakukan oleh senior Akademi Kepolisisn, yang menyebabkan seorang taruna harus menjalankan perawatan. Masalah kekerasan seperti ini perlu diwaspadaimenjelang masa orientasi pengenalan kampus di perguruan tinggi saat ini. tindak kekerasan di perguruan tinggi patut dirisaukan. Lembaga pendidikan sebagai penggodok generasi masa depan bertanggung jawab atas warna-warni sikap dan perilaku generasi muda saat ini, yang akan menentukan masa depan negara. Karena itu, lembaga pendidikan jangan hanya mengajarkan bagaimana siswa dan mahasiswa tahu (learning to know), tapi bagaimana anak didik bersikap mterhadap sesama (learning to live together).
Kekerasan dalam dunia pendidikan seolah memberikan gamaran mengenai sesuatu yang irasionalitas dan paradoks. Dunia pendidikan yang seharusnya mengajarkan orang menggunakan rasio, nalar dan daya kritisnya ternyata memberi ruang pada kekerasan. Zulkifi[6] (2003) mengungkapkan hal demikian, sebagai berikut:
“Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Proses penanaman nilai-nilai luhur; rasa kemanusian, kasih sayang, saling mencintai dan tentu bukan sebaliknya rasa permusuhan dan tindak kekerasan lainnya.
Maka tak belebihan rasanya jika kita mengatakan adalah sebuah ironi yang menyesakkan manakala para pendidik kita justru menampilkan perilaku yang bertentangan dengan hakekat pendidikan tersebut. Kasus pemukulan murid oleh gurunya dan pemukulan guru oleh wali murid yang hampir menyeret berbagai pihak ke meja pengadilan (Pontianakpost,13/02/03) mau tak mau memaksa kita untuk mencermati lebih jauh persoalan ini. “
Pada tahun 2007 saja, Kompas[7] mencatat kasus kekerasan dalam pendidikan.
- 3 April 2007 : Cliff Muntu (19), praja tingkat II Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Jawa Barat tewas. Kematian mahasiswa asal Manada, Sulawesi Utara, itu diduga karena dianiaya oleh seniornya.
- 28 April 2007 : Edo Rinaldo (8), siswa kelas II SD Santa Maria Immaculata di Pondok Bambu, Duren Sawit, jakarta Timur, tewas setelah dikeroyok empat teman sebaya di sekolahnya. Seorang pelakunya adalah siswa kelas IV SD, sedang tiga lainnya adalah teman sekelas dan ketiganya perempuan.
- 15 Mei 2007 : Blasius Adi Saputra (18), siswa kelas I SMA Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, melaporkan ke polisi soal kekerasan fisik dan mental yang dialaminya di sekolah. Penganiayaan itu diduga dilakukan oleh seniornya.
- 30 Mei 2007 : Tiga siswa SMP Negeri 8 Kota Tegal, Jawa Tengah, mengaku dianiaya kepala sekolah mereka, Muslich, karena tidak bersedia membukakan pintu gerbang sekolah. Ketiga siswa itu adalah Fajar Nurdiansyah (14), Jamaludin (14), dan Andi Setiawan (14). Akibatnya, fajar dan Jamaludin mengalami trauma sehingga takut berangkat sekolah.
- 21 Agustus 2007 : Franky Edward Damar (16), siswa kelas I SMK Pelayaran Wira Maritim, Surabaya, meninggal saat mengikuti masa orientasi sekolah (MOS). Sebelumnya Franky beberapa kali mengeluh sakit kepala kepada para senior, tetapi hanya diberi obat sakit perut.
- 10 November 2007 : Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15), siswa kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, disiksa seniornya hingga retak tulang tangan sebelah kiri dan luka sundutan rokok di kedua tangan. Fadhil diduga dianiaya anggota geng Gazper yang beranggotakan ratusan siswa SMA 34.
Dalam tahun 2008 sampai 2009 tercatat banyak kasus yang serius untuk ditanggapi. Kasus pemukulan guru terhadap siswa dan perkelahian antar geng pelajar di Kupang, NTT Februari 2009 lalu menjadi contoh kekerasan sudah mewabah dan menjadi virus yang sulit dimatikan dalam tubuh lembaga pendidikan. Dengan kenyataan seperti itu, bolehlah dikatakan bahwa dunia pendidikan seolah sudah bersahabat baik dengan kekerasan. Warna tersebut begitu kental, seperti air jernih yang kemasukan tinta. Sebegitu keruh sampai mengaburkan apa sebenarnya yang ada dalam dunia dan samudera pendidikan yang sebenarnya begitu luas.
Di tengah kondisi serba tunggang langgang dalam pentas dunia pendidikan saat ini pemikiran seorang filsuf asal Perancis, Jean Paul Sartre dapat menjadi bahan refleksi. Penulis melihat ada penurunan nilai dan semakin sempitnya pemahaman masyarakat saat ini mengenai siapakah “manusia.”
Siapa Sartre?
Sartre adalah seorang penggagas eksistensialisme yang sangat berpengaruh dim Perancis, kota dan negara kelahirannya. Pria dengan nama lengkap Jean-Paul Eymard Sartre ini lahir pada 21 Juni 1905 dari pasangan Jean-Baptiste Sartre dan Anne-Marie. Keluarganya tergolong dalam warga kelas menengah. Jean-Baptiste adalah seorang perwira angkatan laut beragama Katolik, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga beragama Protestan. Ayahnya menuinggal saat Sartre berusia 2 tahun dalam tugasnya sebagai perwira angkatan laut di Indochina. Sartre kemudian dididik oleh ibunya bersama kakeknya yang adalah seorang professor terkemuka dalam bahasa-bahasa modern di Universitas Sorbone.[8]
Ibunya berasal dari Alsace-Lorraine, sebuah daerah dengan warganya berbahasa Jerman dan Peracis. Ibu Sartre adalah saudara sepupu pertama dari Albert Schweitzer (1875-1965), seorang teolog, Misionaris dan ahli musik dari Jerman. Sartre terpaksa masuk dalam sebuah suasana kehidupan baru yakni pada usia 12 tahun saat ibunya menikah lagi. Polou yang manja, demikianlah panggilan saying ibunya, merasakan bahwa pernikahan ibunya sebagai sebuah kehilangan bahkan pengkhianatan. [9]
Sartre pada masa kecilnya tergolong anak yang memiliki fisik sangat lemah sehingga sering menjadi cemoohan teman-temannya. Sementara itu, guru-gurunya mengenalnya sebagai murid yang cerdas dan memiliki semangat tinggi untuk belajar. Ia gemar melamun dan berkhayal. Hal ini merupakan gejala umum pada anak yang lemah secara fisik dabn tidak mampu melawan keadaan di sekitarnya yang sangat tidak menguntungkannya.[10]
Di balik kelemahan fisiknya, satre membuktikan bahwa dirinya cerdasa. Tahun 1915, pada usianya yang ke-15, Sartre menyelesaikan novel perdananya berjudul Pour un Papillion (Untuk seekor kupu-kupu) yang bercerita tentang ekspedisi penangkapan kupu-kupu di Amazon.[11] Kesuksesan ini menjadi awal bagi kesuksesannya dalam bidang ilmu dan kepenulisan dan akirnya menjadi guru besar pada tahun 1931-1933 pada Lyceum di Le Hevre. Pada tahun sesudahnya ia mendapatkan kesempatan untuk belajar pada Husserl di Jerman.
Bersambung…. Riwayat Sartre ..
[1] Anthony Giddens, Runaway World, http://yoyoksiemo.blogspot.com/2007/anthony-giddens-1938.html.
[2] Florens Maxi, Titik Pandang Pencerahan, Caritas Publishing House Indonesia, Jakarta, 2003, 85.
[3] Bernard Tabaire, The Press and Political Repression in Urganda: Back to the Future?? Journal of Eastern African Studies, Vol 1, Issue 2, July 2007, pages 193-200. www.informaworld.com/smpp/content.
[4] NN.Megawati Membangun Negeri, Jakarta, Komunitas Peduli Kasih, 1999, 116.
[5] Doni Koesoema, Pendidikan dan Kekerasan, http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=3588
[6] Zulkifli, Mencermati Kekerasan dalam Pendidikan,…..
7 Kompas,11 November 2007, hlm. 1 dalam Zulkifli, Mencermati Kekerasan dalam Pendidikan, http://www.jubilee- school.net/jubilee/index.php?option=com_content&task=view&id=213&Itemid=38
[8] H,. Muzairi, Eksistensialisme Jean paul Sartre (Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, 71-72.
[9] D. Palmer, Sartre for Beginners, diterjemahkan oleh S. Wakidi, Sartre bagi Pemula, Kanisius, Yogyakarta.
[10] H,. Muzairi, Eksistensialisme Jean Paul Sartre (Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, 72.
[11] Agustanto, Kebebasan dalam Eksistensialisme Jean Paul Sartre (skripsi), 1989, UGM, Yogyakarta, 100.




Hmmm…filsafat dan kekerasan?? bagus..bagus. ditunggu lanjutannya, pak.