Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Selama masa hidupnya, Sartre dikenal sebagai seorang kritikus dasyat dan hebat. Ia tidak segan-segan mengkritik pemerintahan dan kekuasaan yang ada. Pada tahun 1966, Sartre bergabung dengan international Tribunal Against War Chrimes in Vietnam, yang didirikan oleh  Lord Bertrand Russel. Di lembaga ini, mereka menyelidiki kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara-tentara AS dengan norma dan nilai yang pernah digunakan oleh AS untuk menyelidiki kejahatan perang yang dilakukan oleh NAZI Jerman dalam pengadilan Nuremberg 1946. Lebih jauh lagi, ketika revolusi mahasiswa meledak, Sartre mengikutinya dengan perhatian besar. ia mengecam tindakan-tindakan polisi Perancis yang dinilai terlalu kejam.

Hal-hal berkaitan dengan Sartre yang tidak dapat dilupakan adalah ia pernah mendirikan surat kabar bernama Liberation (pembebasan). Majalah ini berisi idealisme, kritik dan gagasan Sartre. Karyawannya dibayar dengan gaji yang sama rata, tidak ada iklah dan non kapitalis.  Dari usaha ini, Sartre ingin berjuang membela kaum buruh.

Pada tahun 1964 ia diproklamirkan sebagai poeraih nobel pada bidang sastra dan kepenulisan. Namun demikian, Jean-Paul Sartre menolak penghargaan Nobel bidang kesusastraan yang sedianya dianugerahkan kepadanya itu. Ia berargumen bahwa seorang penulis tidak boleh mengizinkan dirinya bertransformasi ke dalam sebuah lembaga. Ketertarikan Sartre pada filsafat dimulai ketika membaca Essay on The Immediate Data of Consciousness karya Henri Bergson. Sartre menempuh pendidikan di Ecole Normale Superieure yang merupakan almamater sejumlah pemikir dan intelektual Prancis. Dalam karyanya, Sartre mengedepankan filsafat eksistensialisme, yakni setiap individu harus menciptakan makna bagi hidupnya karena kehidupan dirinya tidak memiliki makna secara lahiriah. Ia kemudian bertemu dengan Simone de Beauvoir yang menjadi kawan baiknya. Sartre menjadi seorang profesor filsafat dan mengajar di Le Havre, Laon, dan Paris. Pada 1938, novel pertamanya yang berjudul Nausea dipublikasikan. Setahun kemudian, ia memublikasikan salah satu karya terbaiknya, Being and Nothingness. Sartre dan Beauvoir bahu-membahu dalam mendukung komunisme, pergerakan sosial, dan kemunculan kelompok mahasiswa radikal di Paris pada 1968. The Family Idiot, karya bersama Flaubert, meledak di pasaran, tetapi hanya tiga yang diterbitkan dari empat jilid yang direncanakan. Kesehatan Sartre mulai menurun pada tahun-tahun berikutnya. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang.[1]

 

Bibliografi

Beberapa karya yang pernah dihasilkan oleh Sartre, antara lain[2]:

  • 1936L’Imagination
  • 1937La Transcendance de l’Ego
  • 1938La Nausée
  • 1939Le Mur
  • 1940L’Imaginaire
  • 1943Les Mouches
  • 1943L’être et le néant: Essai d’ontologie phenomenologique
  • 1945Huis-clos
  • 1946Morts sans sépulture
  • 1946La Putain respectueuse
  • 1947Baudelaire
  • 1947Les Jeux sont faits
  • 1948Les Mains sales
  • 1960Critique de la raison dialectique
  • 1964Les Mots
  • 1947-1976Situations (I – X)
  • 1971-1973L’Idiot de la famille
  • 1983Cahiers pour une morale (anumerta)

Poin Penting Pemikiran Sartre

Sartre adalah tokoh filsafat mengembangkan aliran eksistensialisme.. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L’existence précède l’essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L’homme est condamné à être libre).

”Manusia adalah kebebasan”, demikian kata Sartre, ”tidak cukup dengan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang menginginkan kebebasan, manusia adalah kebebasan itu sendiri”. Inilah corak humanis pemikiran sartre. Kebebasan berarti memilih, menentukan sikap dari sekian alternatif yang dimungkinkan. Manusia bebas memilih jalan hidupnya sendiri tanpa harus ditentukan oleh orang lain atau faktor objektif lainnya.

Namum, kebebasan bukan berarti ”lepas sama sekali” dari kewajiban dan beban. Menurut Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan tanggung jawab, dan tidak bisa dipisahkan.

Dengan kebebasan inilah manusia bereksistensi. Manusia dikatakan makhuk bebas karena ia sanggup untuk mengatakan ”tidak”, menidak (nientir). Dalam hal ini, ada dua modes of being (cara berada) manusia yang kita kenal dari Sartre, being-in-itself (ada-pada-dirinya) dan being-for-itself (ada-bagi-dirinya). Pertama, being-in-itself menunjukkan cara bereksistensi secara tertutup. Apa yang ada sepenuhnya dengan dirinya sendiri, ia tertutup rapat tanpa lobang, tanpa celah, dan tanpa ruang gerak sedikitpun untuk keluar darinya. In the in-self there is not particle of being is which not wholly within it-self without distance. Bagi Sartre, ”ada” yang demikian ini disebut dengan ada yang ”tak berkesadaran”. Ia ada begitu saja (it is what it is) tanpa mempunyai masa silam, masa depan, dan tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan.

Berbeda dengan being-in-itself, being-for-itself menunjukkan cara beradanya manusia di muka bumi; ada yang berkesadaran yang hanya ada pada manusia. Cogito atau kesadaran sebagai titik tolak filsafat, di sini mendapat tekanan khusus dari Sartre, yaitu kesadaran tentang dirinya sendiri (conciusness of self) yang berarti ”membuka diri”.
Being-for-itself ini merupakan inti pandangan Sartre tentang eksistensi manusia. Kata kuncinya adalah kebebasan. Kebebasan akan menetukan keberadaan manusia dalam sejarah. Seorang yang berusaha lari dari kebebasan sebenarnya juga sedang berusaha merealisasikan kebebasan itu sendiri. Jadi tidak ada kata tidak untuk kebebasan manusia. Manusia adalah kebebasan, titik. Justru itu, manusia bebas maka Tuhan tidak ada, karena jika Tuhan ada, lanjut Sartre, berarti ”aku” tidak bebas alias diam karena semuanya sudah dirancang sedemikian rupa oleh Tuhan.

Dengan demikian, Sartre sangat menentang segala bentuk determinisme dan sikap malafide, sikap pasrah yang menerima segala sesuatu secara taken for granted. Misalnya dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar apa boleh buat, memang sudah begitu adanya. Demikianlah Sartre, sepanjang sejarah eksistensialisme, kebebasan ala Sartre ini boleh dibilang paling ekstrim dan radikal. Dalam sejarah perkembangan filsafat, agaknya tidak ada pendirian tentang kebebasan yang ekstrim dan radikal seperti Sartre.

Tidak dapat disangkal ada cukup banyak orang yang sangat revolusioner, progresif, dan berhaluan kiri dalam masa mudanya, sedangkan di masa tua ternyata mereka sudah merasa lesu untuk berjuang terus dan menjadi reaksioner, konservatif, dan berhaluan kanan. Tetapi pada Sartre tidak demikian halnya, ia selalu cenderung berpendapat yang ekstrim dan radikal dan tidak pernah menyembunyikan kecenderungan itu.

Seorang Sartre tidak hanya bermukim di menara gading pemikiran teoretis, kebebasaan yang digembar-gemborkannya mengejawantah pada praksis hidup kesehariannya. Sekadar contoh, misalnya, ia bersama kekasihnya, Simone de Beauvoir, memilih untuk tidak menikah. Menurut mereka, perkawinan hanyalah suatu lembaga kaum borjuis saja.

Sartre juga menolak hadiah nobel kesusastraan yang dianugerahkan kepadanya pada tahun 1964. Katanya, dengan menerima hadiah tersebut, kebebasannya akan berkurang, karena otomatis ia masuk golongan tertentu, yaitu golongan borjuis atau kapitalis.

Bagaimanakah pandangan Sartre terhadap relasi antarmanusia dalam lingkup sosial? Menurut Sartre, inti setiap relasi antarmanusia adalah konflik, saling menegasikan terus-menerus, karena seorang manusia menjadi subjek sekaligus juga objek bagi yang lain. Oleh karena itu, satu dengan yang lainnya berusaha untuk memasukkan orang lain (yang ada di luar dirinya) dalam pusat ”dunia”-nya. Adapun menurut Sartre, sarana terjadinya konflik tersebut adalah sorot mata (le regard). Setiap perjumpaan dan komunikasi dengan orang lain merupakan ancaman bagi eksistensinya. Ucapan Sartre yang cukup populer dan banyak dikutip tentang hal ini adalah neraka adalah orang lain dan dosa asal saya adalah adanya orang lain”.

Sejalan dengan itu, standar objektif moralitas manusia tidak ada sama sekali. Mengikuti Nietzche, Sartre mengutuk setiap bentuk objektivikasi dan impersonalisasi.
Tak ada standar baik dan buruk kecuali kebebasan itu sendiri. 

Meskipun pemikirannya cukup ekstrim pada waktu itu, namun kecerdasan dan pemikirannya memberikan pengaruh yang mendalam pada beberapa tokoh seperti De Beauvoir, Merleau-Ponty, Frantz Fanon, R.D. Laing, Iris Murdoch, Gilles Deleuze, Felix Guattari, Alain Badiou, Frederic Jameson, Michael Jackson, Albert Camus, Kenzaburo Oe, Doris Lessing, William Burroughs

 

Pemikiran dan Konteks Sekarang

Sartre merumuskan eksistensialisme sebagai keeeasan radikal manusia, dan posisinya sebagai ketiadaan yang meniadakan; kematian Allah; pencarian nilai; adanya angst (kecemasan yang mendalam); dan ketiadaan sebagai kategori pokok (Bagus, 2002:188). Bagus (2002:295) lebih lanjut mengatakan baha humanisme individualisme rasional dianggap paling tinggi , individu dianggap nilai paling akhir , serta pemupukan perkemangan kreatif dan perkemangan moral individu secara rasional dan berarti tanpa acuan pada konsep-konsep tantang adikodrati.

Ajaran humanisme eksistensialis Sartre Bertolak dan realitas yang bersifat dualis, membedakan realitas menjadi dua yaitu being–in –it-self dan being-for-it-self. Being-in-itself menunjuk cara bereksistensi secara tertutup, merupakan cara mengada pada benda-benda. Sedangkan, being-for-it-self adalah cara mengada manusia, ada yang terbuka, pengada yang sadar, yang hanya berlaku pada manusia. Pembahasan Sartre secara sentral lebih memfokuskan mengenai pengada yang sadar, yang identik dengan manusia. Sartre mengungkapkan bahwa manusia  mengada dengan kesadaran bagi dirinya sendiri. Cara mengada manusia berbeda dengan cara mengada pada benda-benda, manusia memiliki kesadaran mengenai dirinya sendiri sedangkan benda-benda tidak. Manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (Hasan dalam Siswanto, 2001:3). Kemudian cara mengadan yang ketiga, cara mengada yang sering dilupakan banyak orang adalah being-for-other, yang terdapat dalam bagian ketiga Being And Nothingness, memahas mengenai cara mengada manusia apabila dihubungkan dengan obyek di luar dirinya, dalam hal ini orang lain. (Muzairi, 1982:90).

“Humanisme eksistensial memandang manusia tidak terbungkam, membisu dalam dirinya sendiri, melainkan selamanya hadir dalam suatu semesta manusia, mengingatkan pada manusia bahwa tidak ada legislator, selain dirinya sendiri, dengan harus memutuskan untuk dirinya sendiri, melainkan selalu mengatasi diri, suatu tujuan yaitu tujuan pembebasan atau suatu realisasi bahwa manusia dapat merealisasikan dirinya menjadi manusia sejati” (Sartre, 1960:105).

 

Kutipan di atas memperjelas konsekuensi yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Bahwa manusia dalam menjalani hidupnya selalu dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan, dan manusia memiliki kebebasan untuk memilih setiap kemungkinan yang ada, kemungkinan yang akan dipilihnya dari sekian banyak kemungkinan yang ditawarkan dalam hidupnya. Kebeasan manusia mengatasi segalanya, bahkan mengatasi segalanya ahkan alam semesta sekalipun, dipertegas bahwa tidak ada legislator bagi manusia kecuali manusia itu sendiri. Secara singkat bahwa manusia adalah pembentuk nilai untuk dirinya sendiri.

Sartre memberikan pilihan kepada kita. Karena manusia adalah yang bebas menentukan nilai yang cocok bagi dirinya maka ia bebas menentukan apa saja yang hendak ia lakukan dan tidak. Manusia adalah tuan atas nilai-nilai. Selain itu, Sartre melihat bahwa kekerasan adalah bentuk atau cara untuk menunjukkan kebebasan. Kekerasan adalah jalan untuk menegaskan bahwa saat ini seseorang keluar dari keterkekangan.

Kesimpulan saya, mungkin akan lebih baik jika sekolah mengajarkan siswa-siswanya untuk lebih terbuka. Mengajarkan siswanya menjadi diri sendiri bukan meniru si A atau si B karena mematronkan seorang bias membuat seorang anak stress dan merasa dirinya tidak bebas. Ia harus menjadi seperti ini dan itu.

Bagi saya kekerasan kadang datang sebagai pelampiasan rasa ketidakpuasan akan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan seseorang. Anak-anak di sekolah mungkin akan stress dan melukai rekan-rekannya karena stress menghadapi tuntutan ujian dan tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya sekolah dan mendapatkan nilai terbaik.

Sekarang, cobalah melihat ke kiri dan ke kanan Anda. Saya yakin hal seperti ini akrab dengan situasi pendidikan kita saat ini. Mari bersama-sama mengubah kesalahan kita bersama daripada hanya terpekur dan meratapinya.  (Yosef-Yogyakarta)

 

 


[1]http://www.mediaindonesia.com/read/2008/10/10/38200/77/21/Jean-Paul_Sartre_Menolak_Penghargaan _Nobel

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre

 

Dari Seribu Jendela Menuju Satu Fokus

Dewasa ini, tragedi kemanusiaan yang merendahkan martabat manusia selalu menjadi sorotan berbagai pihak. Kekerasan itu begitu sering terjadi dan membentuk suatu proses yang kental dehumanisasi. Tidak mengherankan bila kita tidak menemui kesulitan  untuk memperoleh informasi seputar dehumanisasi. Dari media cetak lokal maupun nasional, kekerasan tidak pernah alpa untuk mengisi  halaman berita. Di Yogyakarta Koran Merapi dan Minggu Pagi adalah contoh Koran yang menjadikan kekerasan sebagai salah satu sajian utamanya. Dari berita di media elektronik kekerasan menempati porsi yang cukup besar, dari pagi sampai pagi. Saking seringnya menyantap dan menjumpai tindakan kekerasan, lama-kelamaan masyarakat seolah sudah terbiasa bahkan bisa mereproduksi kekerasan tersebut.

Kasus kekerasan sebenarnya buklanlah kasus baru. Kekerasan seolah sudah menjadi momok dan membentuk lingkaran setan yang tidak pernah selesai. Berbicara tentang kekerasan, penulis menyajikan pendapat Siswadi (2006) dalam harian Waspada online, berikut ini:

“Kultur kekerasan dan brutalisme tampaknya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Belakangan ini, frekuensinya bahkan cenderung menuingkat tajam. Penghilangan nyawa manusia dengan bermacam dalih, misalnya, kini sering kita saksikan melalui berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Keberanian melakukan berbagai tindak kekerasan itu merupakan pertanda masih rendahnya kesadaran hokum, tipisnya moralitas, dan tidak adanya tanggung jawab memelihara kedamaian dan toleransi antar sesama. Hal itu membuktikan bahwa sifat-sifat jahiliya sudah mulai membudaya dan nilai-nilai keimanan telah kian kabur dari kehidupan masyarakat kita. Celakanya lagi, meskipun kita berpredikat sebagai negara hokum, namun system hokum dan aparatnya sendiri tidak mampu menjangkau dan menyelesaikan setiap bentuk kekerasan yang lahir di masyarakat. Berbagai upaya pencegahan semua bentuk kekerasan sudah dilakukan banyak kalangan, baik lewat forum diskusi, seminar maupun penyuluhan. Tetapi, hingga kini, semua itu belum terasa hasilnya secara maksimal.”

 

Deskripsi di atas juga menjadi perhatian sosiolog Anthony Giddens. Situasi dunia saat ini distilahkannya sebagai Runaway World,[1] yang diterjemahkan sebagai dunia yang berlari tunggang langgang. Satu hal yang menjadi keprihatinannya adalah di tengah dunia yang hiruk pikik, problem dehumanisasi semakin meluas. Hiruk pikuk manusia dengan sejumlah persoalan hidup pada akhirnya mengesampingkan penghargaan aras martabat manusia. Tragedy kemanusiaan 11 September 2001 menjadi satu catatan tersendiri mengenai fenomena kekerasan manusia. Terorisme di sini menjadi suatu konstruksi yang merusak peradaban manusia.

Florens Maxi yang mengutip pendapat Dom C. Helder dalam bukunya The Spiral of Violence mengungkapkan bahwa kekerasan tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan bahkan membuatnya menjadi spiral lingkungan balas dendam.[2]  Konsekuansi kekerasan itu juga tidak dapat dibantah oleh siapa pun juga, karena kekerasan memiliki kelemahan praksis yakni memperbanyajk tindakan kejahatan dan membuat situasi hidup manusia menjadi serba chaos.

Warna kekerasan yang sering terjadi dalam sejarah peradaban manusia tidak  terlepas dari pergolakan ekonomi dan pilitk pada suatu bangsa. Negara Urganda, misalnya. Perrgolakan yang terjadi antar etnis muncul karena keadaan ekonomi dan  pilitik yang tidak seimbang.[3] Di Indonesia, kekerasan yang menyebabkan terjasinya dehumanisasi bukan lagi merupakan hal yang asing. Kasus-kasus berlabelkan perendahan martabat manusia seperti penindasan, kekerasan fisik dan psikis serta ketidakadilan dapat dengan mudah ditemukan dalam keseharian hidup warganya. Di Maluku dan Ambon, misalnya, konflik berkepanjangan mengakibatkan 1.655 orang Muslim dan Kristen meninggal dunia, 1.219 luka berat, 2.315 lari ke hutan Halmahera, 6.497 rumah ibadat dibakar/ rusak dan 86 toko rusak/dibakar, belum termasuk benda-benda lain.[4].   

            Sejumlah fenomena ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya apa yang dialami manusia telah merongrong kemerdekaan hidupnya sendiri. kehidupan manusia dan keberadaannya yang seharusnya dihargai pada kenyataannya direndahkan demi kepentingan tertentu.  Manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan tidak dihargai.

            Begitu banyaknya kasus kekerasan terjadi sehingga kajian tentangnya banyuak dilakukan. Begitu banyak buku yang mengulas tentang kekerasan terhadap perempuan, kekerasan pada lingkungan kerja, kekerasan pada anak-anak, kekerasan seksual, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan kelihatan sekali dapat masuk sampai ke ranah yang paling humanis sekalipun. Ranah yang di sebut pendidikan.

            Kajian mengenai kekerasan dalam ranah ini sangat minim. Pendidikan yang dianggap sebagai media transfer nilai dan budi pekerti ternyata tidak luput dari cengkeraman kekerasan. Memang tidak banyak kasus yang terungkap karena korban pada umumnya merupakan pihak yang sangat lemah dan tak berdaya. Selain itu lingkungan lembaga yang tertutup seringkali dengan mudahnya menyamarkan kasus kekerasan.

            Terungkapnya kasus perilaku kekerasan terhadap para calon pamong praja dalam Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) merupakan gunung es kekerasan yang menggerogoti dunia pendidikan kita. Kematian Cliff Muntu bukan yang pertama, pun bukan satu-satunya korban kekerasan dalam pendidikan. Sejak lama lembaga pendidikan kita telah melahirkan dan mereproduksi kekerasan dalam masyarakat.[5] Perilaku kekerasan dalam pendidikan pamong praja merupakan tindakan melecehkan martabat manusia dan bangsa Indonesia. Itu adalah tindak kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilegalisasi melalui sistem pendidikan.

            Komaruddin (2006) menjelaskan kasus tersebut sebagai berikut:

            “Salah satu masalah pendidikan kita adalah adanya tindak kekerasan, baik yang dilakukan lembaga maupun individu yang terkait dengan dunia pendidikan. Kekerasan bisa terjadi dalam semua level tingkatan pendidikan. Mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Namun banyak yang mencuat ke permukaan justru tindak kekerasan pada lembaga pendidikan tinggi. Belum hilang dalam ingatan kita kasus kematian mahasiswa IPDN, yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pemerintahyan Dalam Negeri (STPDN) akibat ulah para seniornya. Juga baru-baru ini terjadi kekerasan yang dilakukan oleh senior Akademi Kepolisisn, yang menyebabkan seorang taruna harus menjalankan perawatan. Masalah kekerasan seperti ini perlu diwaspadaimenjelang masa orientasi pengenalan kampus di perguruan tinggi saat ini. tindak kekerasan di perguruan tinggi patut dirisaukan. Lembaga pendidikan  sebagai penggodok generasi masa depan bertanggung jawab atas warna-warni sikap dan perilaku generasi muda saat ini, yang akan menentukan masa depan negara. Karena itu, lembaga pendidikan jangan hanya mengajarkan bagaimana siswa dan mahasiswa tahu (learning to know), tapi bagaimana anak didik bersikap mterhadap sesama (learning to live together).

 

Kekerasan dalam dunia  pendidikan seolah memberikan gamaran mengenai sesuatu yang irasionalitas dan paradoks. Dunia pendidikan yang seharusnya mengajarkan orang menggunakan rasio, nalar dan daya kritisnya ternyata memberi ruang pada kekerasan. Zulkifi[6] (2003) mengungkapkan hal demikian, sebagai berikut:

 “Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Proses penanaman nilai-nilai luhur; rasa kemanusian, kasih sayang, saling mencintai dan tentu bukan sebaliknya rasa permusuhan dan tindak kekerasan lainnya.

Maka tak belebihan rasanya jika kita mengatakan adalah sebuah ironi yang menyesakkan manakala para pendidik kita justru menampilkan perilaku yang bertentangan dengan hakekat pendidikan tersebut. Kasus pemukulan murid oleh gurunya dan pemukulan guru oleh wali murid yang hampir menyeret berbagai pihak ke meja pengadilan (Pontianakpost,13/02/03) mau tak mau memaksa kita untuk mencermati lebih jauh persoalan ini. “

          Pada tahun 2007 saja, Kompas[7] mencatat kasus kekerasan dalam pendidikan.

  • 3 April 2007 : Cliff Muntu (19), praja tingkat II Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Jawa Barat tewas. Kematian mahasiswa asal Manada, Sulawesi Utara, itu diduga karena dianiaya oleh seniornya.
  • 28 April 2007 : Edo Rinaldo (8), siswa kelas II SD Santa Maria Immaculata di Pondok Bambu, Duren Sawit, jakarta Timur, tewas setelah dikeroyok empat teman sebaya di sekolahnya. Seorang pelakunya adalah siswa kelas IV SD, sedang tiga lainnya adalah teman sekelas dan ketiganya perempuan.
  • 15 Mei 2007 : Blasius Adi Saputra (18), siswa kelas I SMA Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, melaporkan ke polisi soal kekerasan fisik dan mental yang dialaminya di sekolah. Penganiayaan itu diduga dilakukan oleh seniornya.
  • 30 Mei 2007 : Tiga siswa SMP Negeri 8 Kota Tegal, Jawa Tengah, mengaku dianiaya kepala sekolah mereka, Muslich, karena tidak bersedia membukakan pintu gerbang sekolah. Ketiga siswa itu adalah Fajar Nurdiansyah (14), Jamaludin (14), dan Andi Setiawan (14). Akibatnya, fajar dan Jamaludin mengalami trauma sehingga takut berangkat sekolah.
  • 21 Agustus 2007 : Franky Edward Damar (16), siswa kelas I SMK Pelayaran Wira Maritim, Surabaya, meninggal saat mengikuti masa orientasi sekolah (MOS). Sebelumnya Franky beberapa kali mengeluh sakit kepala kepada para senior, tetapi hanya diberi obat sakit perut.
  • 10 November 2007 : Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15), siswa kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, disiksa seniornya hingga retak tulang tangan sebelah kiri dan luka sundutan rokok di kedua tangan. Fadhil diduga dianiaya anggota geng Gazper yang beranggotakan ratusan siswa SMA 34.

            Dalam tahun 2008 sampai 2009 tercatat banyak kasus yang serius untuk ditanggapi. Kasus pemukulan guru terhadap siswa  dan perkelahian antar geng pelajar di Kupang, NTT Februari 2009 lalu menjadi contoh kekerasan sudah mewabah dan menjadi virus yang sulit dimatikan dalam tubuh lembaga pendidikan. Dengan kenyataan seperti itu, bolehlah dikatakan bahwa dunia pendidikan seolah sudah bersahabat baik dengan kekerasan. Warna tersebut begitu kental, seperti air jernih yang kemasukan tinta. Sebegitu keruh sampai mengaburkan apa sebenarnya yang ada dalam dunia dan samudera pendidikan yang sebenarnya begitu luas.           

Di tengah kondisi serba tunggang langgang dalam pentas dunia pendidikan saat ini pemikiran seorang filsuf asal Perancis, Jean Paul Sartre dapat menjadi bahan refleksi. Penulis melihat ada penurunan nilai dan semakin sempitnya pemahaman masyarakat saat ini mengenai siapakah “manusia.”

 

Siapa Sartre?

            Sartre adalah seorang penggagas eksistensialisme yang sangat berpengaruh dim Perancis, kota dan negara kelahirannya. Pria dengan nama lengkap Jean-Paul Eymard Sartre ini lahir pada 21 Juni 1905 dari pasangan Jean-Baptiste Sartre dan Anne-Marie. Keluarganya tergolong dalam warga kelas menengah. Jean-Baptiste adalah seorang perwira angkatan laut beragama Katolik, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga beragama Protestan. Ayahnya menuinggal saat Sartre berusia 2 tahun dalam tugasnya sebagai perwira angkatan laut di Indochina. Sartre kemudian dididik oleh ibunya bersama kakeknya yang adalah seorang professor terkemuka dalam bahasa-bahasa modern di Universitas Sorbone.[8]

            Ibunya berasal dari Alsace-Lorraine, sebuah daerah dengan warganya berbahasa Jerman dan Peracis. Ibu Sartre adalah saudara sepupu pertama dari Albert Schweitzer (1875-1965), seorang teolog, Misionaris dan ahli musik dari Jerman. Sartre terpaksa masuk dalam sebuah suasana kehidupan baru yakni pada usia 12 tahun saat ibunya menikah lagi. Polou yang manja, demikianlah panggilan saying ibunya, merasakan bahwa pernikahan ibunya sebagai sebuah kehilangan bahkan pengkhianatan. [9]

            Sartre pada masa  kecilnya tergolong anak yang memiliki fisik sangat lemah sehingga sering menjadi cemoohan teman-temannya. Sementara itu, guru-gurunya mengenalnya sebagai murid yang cerdas dan memiliki semangat tinggi untuk belajar. Ia gemar melamun dan berkhayal. Hal ini merupakan gejala umum pada anak yang lemah secara fisik dabn tidak mampu melawan keadaan di sekitarnya yang sangat tidak menguntungkannya.[10]

            Di balik kelemahan fisiknya, satre membuktikan bahwa dirinya cerdasa. Tahun 1915, pada usianya yang ke-15, Sartre menyelesaikan novel perdananya berjudul Pour un Papillion (Untuk  seekor kupu-kupu) yang bercerita tentang ekspedisi penangkapan kupu-kupu di Amazon.[11]  Kesuksesan ini menjadi awal bagi kesuksesannya dalam bidang ilmu dan kepenulisan dan akirnya menjadi guru besar pada tahun 1931-1933 pada Lyceum di Le Hevre. Pada tahun sesudahnya ia mendapatkan kesempatan untuk belajar pada Husserl di Jerman.

Bersambung…. Riwayat Sartre ..

 


[1] Anthony Giddens, Runaway World, http://yoyoksiemo.blogspot.com/2007/anthony-giddens-1938.html.

[2] Florens Maxi, Titik Pandang Pencerahan, Caritas Publishing House Indonesia, Jakarta, 2003, 85.

[3] Bernard Tabaire, The Press and Political Repression in Urganda: Back to the Future?? Journal of Eastern African Studies, Vol 1, Issue 2, July 2007, pages 193-200. www.informaworld.com/smpp/content.

[4] NN.Megawati Membangun Negeri, Jakarta, Komunitas Peduli Kasih, 1999, 116.

[5]  Doni Koesoema, Pendidikan dan Kekerasan,  http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=3588

[6] Zulkifli, Mencermati Kekerasan dalam Pendidikan,…..

7 Kompas,11 November 2007, hlm. 1 dalam Zulkifli, Mencermati Kekerasan dalam Pendidikan, http://www.jubilee- school.net/jubilee/index.php?option=com_content&task=view&id=213&Itemid=38  

 

[8] H,. Muzairi, Eksistensialisme Jean paul Sartre (Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, 71-72.

[9] D. Palmer, Sartre for Beginners, diterjemahkan oleh S. Wakidi, Sartre bagi Pemula, Kanisius, Yogyakarta.

[10] H,. Muzairi, Eksistensialisme Jean Paul Sartre (Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, 72.

[11] Agustanto, Kebebasan dalam Eksistensialisme Jean Paul Sartre (skripsi), 1989, UGM, Yogyakarta, 100.

Suara dari Surau

By : Yosef

Pergi dari mimpi dunia
Melangkah ke nirwana puncak tertinggi
Bersemayam di sana sang khalik penjaga semesta
Di hatiku terdengar suaranya menyapa
Pedulinya padaku

Cinta-Mu menghangatkan
Kasihmu menentramkan
Berpaling dari-Mu hanya kesia-siaan
Beranjak menuju kediaman-Mu meneduhkan
Di puncak surau-Mu
Di batas seruan itu
Kudapatkan Hatiku merindukan-Mu

Jogja, di saat subuh

Natal tinggal satu setengah bulan lagi. Namun suasana kota Jogja akhir-akhir ini mengajak aku untuk cepat-cepat mencari kemana tempat untuk melabuhkan ide dan kegelisahan saya. Labuhan yang enak untuk kegelisahan saya adalah moment Natal yang akan datang sebentar lagi. Suasana Jogja yang baru saya akrabi lagi 2 minggu ini (setelah beberapa bulan menghilang) tidak membuat saya tenggelam dalam kebisingannya. Dalam hiruk pikuk dan ramainya orang berjubel di pusat perbelanjaan, pasar-pasar, tempat hiburan dan berbagai area pameran saya hanya bertanya, “inikah persaudaraan atau kebersamaan sejati?” Orang berkerumun, bergerombol namun mereka tidak “bersama”. Mereka memiliki kesibukan sendiri-sendiri. 

            Adalah suatu kebanggan, ketika suasana dunia dewasa ini, dunia yang oleh Anthony Gidens disebut Runaway world, artinya dunia yang serba tunggang langgang (Anthony Giddens, Runaway World, http://yoyoksiemo.blogspot.com) memberikan inspirasi untuk membuat drama natal untuk anak-anak. Mengapa untuk anak-anak? Di mata mereka masih terlihat kepolosan, meski kepolosan itu semakin terkikis kejamnya perybahan dunia yang begitu cepat. Di hati mereka yang masih murni, saya  ingin menempatkan sebuah pesan, “betapa indah hidup dalam kebersamaan. Bagunlah dari dudukmu! Pergi dan ciptakanlah itu bersama orang lain”.

 Natal Di Desaku

Sederhana dalam kebersamaan dan Sukacita

 

Prolog:

Musik Natal atau musik yang cocok dengan suasana bermain anak-anak.

Adegan I

Angel   : Lusi…ayo, kita main jeg-jegan..

Lusi         Ya, sebentar…aku segera datang. Tapi panggil juga teman-teman kita yang lainnya ya, biar seru

Angel   : Aldo, Edo, Dimas, Gita..ayo main jeg-jegan..keburu hujan loh..

(Teman-teman Angel dan Lusi segera datang. lalu mereka tenggelam dalam permainan.namun saat lagio seru-serunya bermain hujan datang.)

Aldo     : Wah…pulang aja ya? hujan nih..

Anak2  : Ya,,,mari kita pulang

(Anak-anak berlari-lari ke rumahnya masing-masing. *sementara itu anak-anak lainnya datang ke panggung dengan kertas pengganti dinding.)

Adegan II

(Lusi kembali ke rumahnya…dibukanya pintu dan segera masuk untuk melihat ayahnya yang sedang sakit)

Lusi         : Ayah…atah sakit ya? (Lusi bverlari ke artah ayahnya dan memegangi dahi ayahnya). Oh Tuhan..kok ayah sakit lagi to?

Ayah    : Ayah tidak apa-apa. Dada saya Cuma agak sakit.

Lusi      : Itukan karena penyakit ayah kambuh lagi.

Ayah sudah minum obat?

Ayah       : Belum, nak.

Lusi         : Ok..saya beri obat.(Lusi mengambil segelas air dan obat lalu memberikannya kepada ayahnya)

Ayah       : Ah… terima kasih. Ayah mau istirahat dulu. Kamu ke Gereja saja. Ini kan Malam Natal. Umat katolik merayakan kelahiran Kristus, sang  raja dan terang dunia. Malaikat-malaikat sedang memberitakan kabar bahwa Yesus telah lahir di Betlehem. Marilah kita bersukaria..

Lusi         :Ayah… Lusi menjaga ayah di sini. Besok pagi kan masih ada misa. Biar kutemani Ayah.

(Hujan tak lagi turun. Mungkin rintik hujan tadi mengingatkan Lusi, Angela,dan kawan –kawannyua untuk segera mandi dan ke Gereja….Kini, lonceng Gereja telah berbunyi. Sebentar lagi Misa dimulai. Orang-orang di desa itu satu per satu meningalkan rumahnya. Sementara itu, dari  dalam rumah terdengar rumah diketuk. Toki..tok…tok..)

Angel   : Halo…Lusi. Buruan kita udah telat nih.

Lusi      : (sambil berlari ke arah pintu..) Ya, sebentar…

Angel;  : Loh..kok masih belepotan?

Lusi      : Maaf Angel, aku tidak bisa ke Gereja. Besok pagi saja.

Angel      : Kenapa? Ini kan malam Natal. Asyik loh, melihat cahaya lilin, dengar lagu Malam Kudus dan melihat isi Kandang Natal

Lusi         : Ayahku sakit. Aku harus menjaganya. Kamu kan tau hanya aku dan Ayah yang tinggal di sini. Bagaimana jika ada apa-apa dengan ayah?

Angel      : Oh Tuhan. Aku mau lihat ayahmu..(Mereka berdua berjalan menuju kamar Ayah Lusi).

Lusi      : Kamu pergi saja. Sudah hamper terlambat.

Angel      : Ah, teman-teman kita yang lain juga belum berangkat. Sebentar lagi mereka pasti ke sini juga. Aku tidak jadi ke Gereja. Besoksaja,

(Sementara mereka berbicara, Aldo dan teman-teman berdiri di depan pintu.tak sabar menunggu mereka langsung masuk ke dalam rumah. )

Aldo     : Kok belum Mansi, Lusi?

Angel      : Lusi tidak mau ke Gereja. Tuh lihat, ayah Lusi kan sakit. Aku temani Lusi menjaga ayahnya.

Aldo     : Ya, kalau begitu teman-teman, kita semua misa besok pagi saja. Setuju?

Semua  : Setuju.

(Malam datang. Tidak ada yang berbicara. Mereka berdoa diam-diam berdoa dalam hati demi kesembuhan ayah Lusi. Hari Natal begini orang sibuk di Gereja.Makanya susah mencari bantuan jika ada yang sakit. Saat Ayah Lusi membuka matanya, Ia melihatLusi dan teman-temannyua mengelilingi tempat tidurnya.)

Ayah    : Hah…apakah saya sudah mati?

Lusi         ; Tidak ayah. Ayah masih hidup. Ayah ditemani para pangeran dan cinderela yang cakep-cakep.

Ayah       : Oh iya, terima kasih teman-teman Tuhan Yesus. Dan apa tadi, kata Lusi? Ah, para pangeran dan cinderela yang cakep.

Semua     : Ha..ha..hahaha….

Lusi      : Ayah, sudah baikan kan?

Ayah       : Iya. Kaklian anak-anak yang baik. Saling membantu dan suka bekerja sama. Andai saja anak-anak lain di kampong ini seperti kalian, betapa bahagianya orang tua mereka. Ya, kalau dilihat dari arti nama kalian, Lusi sama dengan Lux artinya cahaya. Angel sama dengan Angelus artinya malaikat. Semoga sinarmu menerangi dunia dan hatimu seperti malaikat, suci dan menjadi pembawa kabar gembira tentang lahiornya Yesus Kristus, penyelamat Dunia. Kalian yang lain adalah gembala-gembala yang menemani bayi Yesus…

Aldo     : Angelus itu dari Bahasa Afrika ya pak?

Ayah    : Nggak. Itu bahasa Latin, bahasanya orang Londo.

Aldo     : Terus Aldo dan Paijo artinya apa?

Ayah    : Lupa ya, Paijo artinya apa. Coba Tanya sama mbah kakungmu sendiri ya?

Adegan III

(Kring…kring…kemana anak-anak desa ini? O…Selamat malam. Di sini to tempaty anak-anak kumpul? Aku Sinterklas..)

Lusi         : Oh iya, itu Sinterklas, orang tua yang baik hati  dan  suka membawa hadiah. Kita bisa dapat hadiah nih.. Hitung-hitung hadiah Natal kan?

Ayah    : Ajak dia ke sini.

Lusi      : Ke sini..Sinterklas.

(Sinterklas berljalan tertatih-tatih ke dalam rumah)

Ayah    : Sinterklas kok pake blangkon dan sorjan?

Angel   : Tukang ketoprak kali ya?

Lusi      : Eh, ndeso. Itu kan Sinterklasnya orang Jawa. Ih..capek deh.

(Anak –anak itu tertawa bersama. Sinterklas pun ikut tertawa . Malam itu suara mereka terdengar sampai ke ujung kampung. Lagu-lagu Natal terdengar dari Gereja..Di tengah malam itu mereka berhambuiran keluar rumah..dan melompat-lompat kegirangan…Anak-anak desa yang sederhana tapi berbahagia, merasa damai di desanya sendiri. Natal telah tiba. Mari kita rayakan. Ka’ Yo (sef), Jakal, 13 Oktober 2009..

SOPHIE MARTIN a la BATIK

Terheran-heran dan kagum. Mungkin itulah reaksi para pecinta bag mania saat menyaksikan koleksi tas bermodel sekelas Sophie Martin di jual di pasar rakyat. Percayalah, pemandangan itu hanya ada di satu pasar, sekaligus tempat wisata Yogyakarta.  Dari sini pun Anda dapat bertanya, setelah melihat nuansa indah yang ditawarkannya, dan aneka motif serta keasliannya,  benarkah Batik merupakan warisan “negara lain”?

Oleh : Yosef  Lawe Oyan

 Rasanya lega bukan kepalang setelah melewati lorong-lorong kecil pasar yang dipadati  penjual dan calon pembeli.  Pemandangan kios-kios pasar sangat rapat. baju, celana, gordin dan gulungan kain batik memberikan hiburan tersendiri, hiburan yang tidak ditemukan di mall-mall. Sembari merasa heran bagaimana mungkin para penjual bertahan di tengah dagangan yang seragam dan daya beli yang semakin menurun. Lalu bagaimana mereka dapat mendapatkan modal untuk membeli kios-kios yang konon harganya mencapai 100 juta sampai 150 juta itu. 

 Di ujung gang, persis dekat pagar pembatas pasar, saya menemukan pemandangan yang unik.  Di salah satu bagian pasar Bringharjo, Yogyakarta ini bergelantungan dengan indah tas-tas bermodel midleclass. Sebut saja Sophie Martin.

 Wanti (32) sang penjual tas  mengakui bahan tas-tas tersebut memang dibuat dengan teknik khusus. Tapi bukan dengan melapisi bagian luar tas berkelas tersebut dengan kain batik. Setiap ada tas keluaran baru  dari merek-merek terkenal, ia bekerja sama dengan penjahitnya untuk menirukan model yang sedang nge-trend. Kuncinya ada pada mengenal model tas terbaru, menentukan warna batik dan motif  yang dianggap enak dipandang dan memadukannya dengan bahan-bahan lain seperti kulit untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan contohnya.

 Harga untuk tas tersebut dimulai dari Rp15.000-Rp30.000 tergantung pada kualitas kain, motif dan tingkat kesulitannya. Jadi, jika ingin tampil cantik tanpa meninggalkan trend mode tas kenapa tidak memilih SOPHIE MARTIN a la Batik saja? Selain berbahan batik dengan motif dan warna pilihan yang menarik kita juga bisa berpartisipasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

 Masih banyak bahan dan motif batik serta modelnya yang unik ada di sana. Ada tas untuk laptop, tas sekolah, tas kotak untuk belanja dan bekal,  postman bag dan   tas pita tengah atau samping. Coba keunikan tas buatan lokal dengan model yang tak kalah menarik. Selagi Anda pintar menawar, kenapa tidak bisa mendapatkan harga yang murah dan terjangkau?     

            Jika Batik sering diklaim orang sebagai pusaka warisan mereka, janganlah bersedih. Berbaliklah pada diri dan jadikan Batik menguasai seluruh wajah perekonomian serta budaya (fashion, art, education). Dengan demikian, orang lain akan paham, siapa sebenarnya pewaris Batik paling asli, the real generation of Batik.. Majukan Batik Indonesia.. (Yosef-Yogyakarta).

Aku Lupa

 Lagu Kuburan band bisa menjadi sindiran buatku hari ini. Kamarin ngubek dunia online untuk masukin postingan CTD.Ini tujuan awal jalan-jalan dari satu blog ke blog lain. Ya, aku ingin mencari inspirasi. Setelah berjam-jam mengamati dunia blog dan saking asyiknya aku lupa akan tujuan ngeblogku sebelumnya. Akhirnya, saat temanku menelpon postingan blog pun hilang lenyap. Lupa…lupa dan lupa…

Waktu cepat berlalu

Tak terasa hari di man saya harus menyelesaikan tulisan-tulisan untuk kompetisi blog 2009 yang diselenggarakan www.bugiakso.com sud depan mata. Sudah tak bisa saya kejar lagi. hmmm…. beberapa hari (sebenarnya lebih tepat jika disebut 2 minggu) berada di bekasi memang merupakan masa yang cukup sulit buat saya.

Bagaimana bisa. Rumah paman saya yang ada di kawasan rawa panjang sangat susah mendapatkan warnet. Untuk dapat warnet saya berjalan kaki sejauh 2 kilometer. Jika tidak harus naik angkot yang menuju ke arah Bogor, dan Cileungsi. Beberapa kali naik angkot ke warnet namun kebetulan pikiran sedang kacau. Berbagai masalah pribadi dan masalah rumah tangga paman yang cukup menguras otak saya. Hasilnya, setelah berhadapan dengan layar monitor komputer, saya hanya duduk bengong. dan kalau sudah begitu, saya paling-paling membuka dana membalas email-email yang masuk. selebihnya, meladeni percakapan-percakapan tidak penting dengan teman-teman yang ada di Jogja dan sekitarnya.

Ya, sampailah pada hari ini, tanggal 12 Februari 2009. saya bangun pagi dan hanya tersenyum kecut saat melihat hari dan tanggal pagi ini. Akhirnya, dari pada berkesal-kesal ria, saya menuju ke ruang tv dan menonton dari jam 06.00 sampai jam 09.00 pagi.

Dari tayangan -tayangan di televisi, kesadaran saya akan cepatnya waktu berputar semakin mendalam. Rasanya, baru kemarin terjadi kerusuhan di kantor DPRD SUMUT yang berujung tewasnya Ketua DPRD, Angkat. Rasanya baru kemarin terjadi bencana Lumpur lapindo. baru sejam yang lalu muncul seorang dukun fenomenal, Ponary,dsb.

Berkaitan dengan lomba blog, saya akui, suasana hati dan suasana di sekitar saya sedang tidak mendukung. Jadi, kali ini peluang untuk menjadi peserta lomba belum menjadi milik saya. Ok, saya terima dengan lapang dada. Ya, masalah yang cukup pelik, menyita pikiran dan energiku, hingga saya terbawa pada detik ini. saat saya sadar bahwa, waktu tidak bisa saya hentikan sejenak hingga persoalan keluarga syudah selesai, beres. Saya hanya setitik debu di antara roda ban mobil. Tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu.

Sebenarnya…apa yang mau saya katakan? Pada intinya, waktu cepat berlalu tanpa bisa dikendalikan. Siapa yang terlena, akan digilas dan ditinggalkan oleh sang waktu.Sekarang, sedetik saja bisa mengubah nasib hidup seseorang. Ungkapan, waktu adalah uang adalah salah satu bentuk kesadaran orang akan waktu.

Untuk mereka yang suka bermalas-malasan, lamban dan tidak menyesuaikan diri dengan waktu, Anda bisa menjadi orang yang terakhir, tidak maju dan mandeg.

“Untuk setiap waktu, sadarlah. Resapilah setiap detiknya. dan lakukanlah apa yang seharusnya kamu lakukan.” demikian kata guru saya sewaktu duduk di SD.

Kata-kata itu selalu terngiang di telinga saya saat kemalasan menghinggapi dan virus lamban mendatangi saya. Semoga Saya, Anda dan semua orang memanfaatkan setiap detik hidupnya, tak ada yang terlewatkan dan akhirnya menyesal kemudian.

Bekasi

12 Februari 2009

 Pastor unik itu sudah tiada. Kepulan asap rokok yang selalu berlomba-lomba mengepul  di bibirnya tak kelihatan lagi. Uniknya itu tidak tanggung-tanggung. Sudah masuk ICU sekalipun, jemarinya masih erat menjepit rokok yang masih menyala. Baginya, rokok adalah sahabat. Rokok sudah menyatu dengan tubuhnya yang kurus dan tinggi itu.

 

Sekali waktu ia ditanyai mengenai kebiasaannya merokok sehabis makan.

Penanya : Pater Franz,  merokok terus. Apa yang enak dari sebatang rokok?

 

Pater F: saya juga tidak tahu apa enaknya.

Penanya: ????

 

Penanya belum puas dan bertanya lagi…

Penanya : Pater, apa tidak takut sakit karena rokok itu?

 

Pater F: Merokok mati. Tidak merokok juga mati. Semuanya sama saja. Jadi lebih baik saya merokok.

 

Pater Franz Pfister, imam ini akrab dipanggil Pater Franz. Hobi sepak bola dan pendukung fanatic keseblasan tim Panzer Jerman. Selamat jalan pastor. Kami kenang jasa-jasamu.

 

….sebagai tanda hormat, ini adalah riwayat beliau….

 

Pater Frans Pfister lahir pada tanggal 14 Februari 1938 di Trier, Jerman. Ia adalah anak pertama dari dua saudara. Bapaknya bernama Victor Pfister, dan ibunya Hedwig Klien. Beliau mengikrarkan kaul Pertama dalam Kongregasi Redemptoris pada tanggal 25 Maret 1961dalam usia 23 tahun. Tiga tahun kemudian yaitu pada tanggal 30 Juli 1964 ia mengikrarkan kaul kekalnya. Tahun 1966 ia ditahbiskan menjadi imam dengan motto tahbisan: Menjadi Imam Kristus. Dan ia membuktikan diri sebagai imam Kristus, dengan kesediaan untuk menjadi Misionaris ke Indonesia, ketika profincial menugaskan dirinya untuk berkarya di Indonesia.

            Sejak tahun 58/59, Redemptoris Propinsi Koln Jerman, lagi sibuk-sibuknya mengembangkan sayap mewartakan penebusan kepada umat manusia, Indonesia, khususnya Sumba menjadi target istimewa yang menjadi sasaran arah perjalanan misi para Redemptoris. Maka pada tahun 1968 pater Frans bersama teman-temannya di utus ke Indonesia. Setelah melewati perjalanan yang jauh dan cukup melelahkan karena harus menerjang ombak, akhirnya mereka tiba di Indonesia pada tanggal 17 Juli 1968. Tanggal 30 Juli tahun itu juga mereka tiba di Waingapu, Sumba dengan kapal Stella Maris.

            Setelah tiba di Sumba dia langsung berkarya. Pertama-tama ia ditugaskan di Asrama Pada Dita. Ia berkarya selama 12 tahun. Sementara itu juga, ia membantu di paroki Wara dan Lewa. Di asrama Pada Dita beliau memperkenalkan kepada anak-anak asramanya cara bermain bola dan musik yang baik.

Ia pindah dari Pada Dita karena ia dipilih sebagai Propinsial Redmeptoris Indonesia. Waktu itu, Redemptoris Indonesia masih  berstatusVicepropinsi. Karena kepemimpinanya yang tegas tetapi menyenangkan beliau dipilih lagi empat periode kepemimpinan selama 12 tahun.

Karena tenaga pastoral waktu itu masih sangat kurang di Sumba, ia juga aktif dalam kegiatan misi umat sejak tahun 1983 sampai tahun 1999 sekaligus bertugas sebagai Socius Noviciat CSsR di Wanno Gaspar SB sejak tahun 1996-1999. Sementara itu–Pater Frans selalu memiliki tugas lebih dari satu-, ia menjadi pembimbing imam muda dan frater toper biar semakin matang dalam panggilan. Pada tahun 1999, ia sudah pindah di Jogyakarta. Pada rentang waktu yang sama antara tahun 1996-2003 ia ditugaskan menjadi Anggota Sekretariat Jenderal untuk Formatio sekaligus menjadi Staff Pembina Rumah Pendidikan Calon Imam CSsR di WSP sejak tahun 1999 sampai wafatnya pada tanggal 27 Januari 2009 kemarin.

Kami mengenal beliau secara lebih dekat itu ketika kami semua berada di tempat ini. Kecuali para imam mungkin punya pengalaman istemewa. Para Frater memiliki pengalaman dengan P. Frans yakni dalam kegiatan sehari-hari di sini. Entah sepak bola, musik, dirigen dengan kekhasan lagu-lagu Acapela, seperti nyanyi bumi, pohon terang, gita surga. Orgel disingkirkan. Selain itu, kami juga sering meminta bantuan untuk menerjemahkan tugas bahasa Inggris, minta scan Flasdisk, minta tolong Printing tugas, minta uang, dll. Dan yang tidak kalah penting adalah meminta rokok. Kami sangat yakin bahwa kami tidak akan ditolak. Ciri khas beliau yang membuat kami tidak sungkan untuk meminta kepadanya adalah sikap dan waktaknya yang entengan kalau dimintai. Ibarat sabda Yesus: Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu, mintalah maka kamu akan diberi. Motto semacam ini sangat melekat pada dirinya. Bahkan ia pernah menghadiahi sepatu bola untuk semua Frater sebagai hadia ketika beliau pulang dari Jerman. Beliau tidak bisa marah. Artinya kalau marah nampak lucu. Misalnya waktu koor kalau frater salah pasti komentarnya lucu. Soalnya kalau marah ia melebih-lebihkan shg kedengarannya aneh. Yayayaya kamu tidak perlu bentak Tuhan na ya kalau nyanyi. Haluuusssss. Ini semua tinggal kenangan, yang baik kami teladani. Trima kasih Pater, selamat jalan. Doakan kami konfratermu dan juga umat yang pernah engkau layani biar kami semakin mempersembahkan diri kami pada Yesus Kristus Imam Agung. Satu hal yang dapat kami berikan padamu yakni: Namamu akan selalu terukir di hati kami. Sekarang Engkau menjadi imam Kristus yang sempurna disisi Kristus sendiri yang Engkau imani sebagai Penebus (Redemptor).

 

Yogyakarta, 28 Januari 2009

 

 

 

Saya orang Desa…

Desa…siapa yang tidak merasa akrab dengan kata tersebut? Ada yang terharu saat menyebut kata tersebut karena keluarga yang ditinggalkannya manakala ia pergi dari desanya atas dasar memperbaiki nasib keluarga. Ada orang tersenyum geli mengenang kisah-kisah lucu masa kecilnya. Ada yang bahagia karena boleh melewati hidup bersama keluarga, orang tercintanya dan merasakan pemandangan alam nan indah secara gratis.

Desa…selalu menggetarkan hati. Asal muasal budaya perkotaan itu memberi motivasi dan sejuta gagasan spektakuler untuk memajukan kehidupan orang yang hidup didalamnya.

Miris hati saya saat mendengar begitu banyak orang merasa malu ada dan tinggal di desa. Sementara beberapa pribadi merasa identitas dari desa-nya cukup memalukan dan bergaya kekota-kotaan dengan sangat terpaksa, orang lain lagi justeru memberi kesan mendalam pada hal-hal yang berbau desa.

Saat ini, tidak terhitung banyaknya penginapan yang membeli suasana desa. Banyak restoran dan tempat bersantai yang menampilkan kesan desa. Mereka seolah menunjukkan bahwa, desa tidak sekuno namanya dan tidak sejelek kesan yang tampak dari luar.

Desa memiliki segudang pesona seperti yang telah saya katakan di atas. Jika desa kalah dengan kota atau jika kota diyakini memiliki segala pesona, mengapa orang berebut untuk beralih kepada sesuatu yang bersuasana desa.

Saya berani berkata sekarang desa menyedot perhatian banyak orang. ilmu pengetahuan, perkembangan dan teknologi modern yang selama ini menumpuk di kota sudah saatnya digiring ke desa. Biarkan masyarakat desa mencicipi, merasakan dunia yang baru.

Sesusah dan sesulit apapun masuknya hal-hal baru dari kota, awalnya mungkin saja terjadi benturan dan kesalahpahaman, itu toh resiko yang harus dihadapi untuk suatu perubahan.

Anda saja para caleg saat ini, para calon presiden saat ini “sungguh-sungguh” menyadari desa sebagai daerah yang membutuhkan perhatian, alangkah indahnya negeri ini. Pembangunan dan kemajuan di negeri ini kemudian tidak menjadi sekedar mimpi dan angan-angan. Kemajuan tidak hanya menjadi milik orang kota dan mereka yang berada di sekitar secuil berkawasan dan berjargon “metropolitan” tetapi juga hak milik bagi seluruh rakyat negeri ini.

Jika desa-desa sudah mencicipi setetes kemajuan, barulah saya mengakui dan mengamini rentetan syahadat “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Bagi saya, syahadat itu lama kelamaan terdengar sumbang. Hanya seperti anguin lalu, bersama berlalunya masa kampanye pemilu. Berlalu bersama pekik penuh semangat para calon pemegang tampuk kekuasaan dan posisi the number one di negeri ini.

Saya…saya dan saya. mungkin juga Anda. Mengapa diam saja saat pembangunan terkesan tidak merata. Saat informasi dan sosialisasi program-program yang menunjang kemakmuran hanya dikuasai oleh golongan kota?

Saya…saya dan saya dan mungkin Anda juga orang desa- tidak untuk orang yang bergaya dan berstandar kota- seraya berjalan me depan, mari berpikir untuk desa kita. Berpikir dan mengikutinya dengan sebentuk aksi untuk desa. Jika bukan kita yang bersuara…siapa lagi?

Yogyakarta
Bersama angin yang bertiup ke desaku Leworook!!!

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.